Hukum Air, Jika Bangkai Tidak Ada Darah

Hukum Air, Jika Bangkai Tidak Ada Darah Mengalir Jatuh dalam Air Kurang Dua Kullah

Posted on

Dalam pembahasan figh, air yang tidak sampai dua qullah akan bernajis dengan sebab jatuhnya jatuhnya najis kedalam air tersebut. Tidak di tinjau apakah air itu berubah dengan najis itu atau tidak. Jadi sama saja antara berubah dan tidak berubah, air yang tidak sampai dua qullah itu sudah bernajis dengan jatuhnya najis.

Namun ada pengecualian, jika bangkai tersebut adalah termasuk dalam bangkai yang tidak ada darah mengalir, maka ia tidak membuat air yang tidak sampai dua qullah itu bernajis, artinya: air tersebut masih suci menyucikan untuk digunakan sebagai air wudhu’ atau air membersihkan najis.

Baca juga: Hukum Makan Telur Buaya

Walaupun demikian, jika bangkai yang tidak ada darah mengalir itu mengubah air tersebut maka air itu sudah bernajis. Berubah bisa dengan sebab banyaknya bintang tanpa darah mengalir jatuh kedalam air.

Dalam kitab Matan Minhaj, Imam Nawawi mengatakan sebagai berikut:

ويستثنى ميتة لا دم لها سائل فلا تنجس مائعا على المشهور

….di kecualikan bangkai yang tidak ada darah mengalir baginya, maka ia tidak menajiskan benda cair berdasarkan pendapat masyhur (pendpat kuat Imam syafi’e)

hukum bangkai tidak ada darah mengalir

Dalam mensyarah kitab matan minhaj, Syeikh Jaluddin Al Mahally menulis dalam kitabnya Kanzul Raaghibin, yang artinya “di kecualikan daripada najis bangkai yang tidak ada darah mengalir baginya ketika belah anggota tubuhnya ketika hidup seperti lebah, dan kumbang. Maka tidak menasjikan benda cair dengan sebab matinya dalam benda cair tersebut. Demikian berdasarkan Masyhur.”

“Alasannya tidak bernajis adalah karena sulit di jaga untuk tidak jatuh binatang tersebut dalam benda cari. Kecuali jika membuat benda cair itu berubah pada salah satu wasaf (sifat) yang tiga (bau, warna dan rasa), maka air yang kurang dua kullah itu tetap bernajis sekalipun itu jatuh binatang yang tidak ada darah mengalir pada tubuhnya jika di belah ketika hidup.”

Jadi, air tidak sampai dua qullah jika jatuh bintang tidak ada darah mengalir dan mati didalamnya, maka air sedikit (tidak sampai dua qullah) ini tidak bernajis selama air tersebut tidak berubah.

Maksud dari kalimat “مائعا” (benda cair) di sini (dalam pembahasan ini) termasuk air. Jadi kalimat مائعا dan kalimat ماء (air) pada dasarnya punya pengertian yang berbeda.

Baca juga: Hukum Memakai Cadar (Niqab) Menurut 4 Mazhab

مائعا termasuk diantaranya: minyak, manisan, minyak goreng, premium dan lain-lain

Sementara ماء, khusus pemakaiannya pada air.