Home Ceramah Khutbah Idul Fitri: Ciri-Ciri Orang Sukses dalam Ramadhan

Khutbah Idul Fitri: Ciri-Ciri Orang Sukses dalam Ramadhan

khutbah idul fitri

Khutbah idul fitri atau khustbah idul adha sama seperti khutbah jum’at, hanya saja dalam tata cara pelaksanaannya, khutbah hari raya dilakukan setelah melakukan shalat sunnat hari raya sebanyak dua rakaat. Khutbah terdiri dari dua yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua.

Contoh Khutbah Idul Fitri

Khutbah 1

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hari raya adalah momen bahagia ummat Islam diseluruh dunia. Seluruh dunia merayakan hari kemenangan ini dengan gegap gempita mulai dari mengenakan pakaian serba baru, disediakannya makanan khas daerah masing-masing, serta berkunjung ke sanak saudara dan mengunjungi tempat-tempat menarik dan indah berbagai tempat. Perayaan seperti sudah menjadi sebuah tradisi ummat Islam khususnya di Indonesia.

Pada hari raya idul fitri ini ummat Islam merayakan kemenangan dan hari bahagianya, namun tahukah anda “kemenangan atas apa” yang sedang kita rayakan.

Hadirin sidang jamaah idil fitri yang berbahagia..!

Momen idul fitri ini hadir di tengah ummat Islam setelah ummat Islam menjalankan puasa wajib ramadhan selama satu bulan penuh. Puasa berasal dari kata bahasa Arab Al-Shauum yang aritnya imsak atau menahan. Selama berpuasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari ummat Islam diseluruh dunia menahan dirinya dari segala hal yang memebatalkan puasa seperti makan, minum, berhubunghan seks, dan lain-lain. Puasa adalah perjuangan menahan diri dan melawan hawa nafsu yang menjerumuskan ke lembah kehinaan. Tidak ada perjuangan yang leibh berat dibandingkan dengan melawan hawa nafsu karena ia adalah musuh dalam diri kita sendiri. Maka, satu satunya cara menundukkan hawa nahfsu dan melawannya adalah dengan berpusa sesuai dengan tuntunan syariat.

Jadi, syari’at puasa itu adalah tak ubah seperti ujian untuk naik kelas, ketika seorang muslim menjalankan puasa denga baik seperti menahan dirinya dari makanan halal dan hubungan suami isteri yang halal. Himahnya, menahan diri dari yang halal saja mampu apalagi menahan diri daripada yang asalatannya haram. Ujian ini akan berakhir dengan hari kemenangan, bagi siapa hari kemenangan itu, tentu hari kemenangan yang dimaksud adalah untuk mereka yang sudah menjalankan ibadah puasa dengan sukses dan berhasil.

Jika ummat Islam berhasil menjalankan ibadah puasa dengan baik, maka ia akan naik kelas di akhirnya ramadhan atau ketika masuk 1 syawwal. Inilah yang disebut dengan kemenangan yang hakiki karena pada hari 1 syawwal ummat islam diangkat menjadi hamba yang bertaqwa oleh Allah SWT. Karena hikmah dari puasa adalah melahirkan jiwa yang bertaqwa kepada Allah SWT. Siapa mereka, mereka adalah hambaNya yang melaksanakan puasan dengan ikhlas dan benar-benar seperti yang di perintah Allah lewat Rasulullah SAW. Ini senada dengan firman Allah dalam QS albaqarah ayat 183;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah di wajibkan atas ummat sebelum kamu supaya kamu menjadi orang bertaqwa.

Taqwa adalah tujuan sebenarnya dari hamba Allah dan bulan ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan serta Allah memberikan nilai luarbiasa yaitu taqwa kepada hambaNya yang beribadah dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Nilai dan standar tingginya derajat seorang manusia disisi Allah adalah dari seberapa tingginya taqwa kepada Allah.

Seseorang yang sudah taqwa kepada Allah, ia tidak akan berani berbuat salah di dimanapun dia berada baik di tempat ramai atau di tempat sunyi karena Allah maha mengetahui dan melihat segalanya tanpa ada hijab. Orang lain mungkin tidak tahu maksiat yang kita kerjakan tetapi Allah tahu tahu apa yang kita kerjakan.

Orang taqwa tidak akan berani membuat hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasanya seperti mengubar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya’, menyakiti pihak lain, dan lain sebagainya. Jika ini masih terjadi pada diri kita berarti tingkat ketaqwaan kita kepada Allah masih lemah. Mungkin secara figh kita bisa mengatakan bahwa puasa kita masih sah namun apakah di sisi Allah ada harganya, maka sangat penting bagi hamba ini untuk takut bahwa kadang tidak menerima amalannya dan penting untuk bersikap raja’ atau mengharap dengan sepnuh hati agar Allah menerima amalan yang kita kerjakan.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW. bersabda sebagai berikut:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak diperdapatkan dari puasanya selain daripada lapar”. HR Imam Ahmad.

Allahu akbar3X, walilla hil hamd,
Kaum muslimin jamaah shalat idul fitri rahimakumullah..!

Puasa ramadhan sudah kita lewati dan tidak ada satu jaminan bahwa kita bisa kembali bersua dengan ramadhan yang akan datang. Maka pertanyaan yang sangat penting kita tanya pada diri kita adalah bukan hanya “merayakan kemenangan atas apa? tetapi juga apakkita termasuk orang yang memiliki tanda kemenangan itu”. Kita takut, jangan-jangan kita adalah salah satu hamba yang hanya mendapatkan dahaga saja di kala Ramadhan sementara pahalanya tidak ada karena kita sibuk mencaci dan berbuat mungkar dan keji selama ramadahan. Na’uzubillah.!

Ciri-Ciri Orang Mendapatkan Kemenangan di Hari Idul Fitri

Jadi, kita bisa memahami bahwa stadarisasi pencapaian kesuksesan dan kemenangan di hari fitri adalah ketaqwaan. Jika rasa kerqwaan kita kepada Allah ada peningkatakan maka berbahagia di hari idul fitri. Namun jika taqwa kita malah turun dari sebelumnya, rasa takut kita kepada Allah semakin turun dari hari sebelumnya, maka na’uzubillah ini adalah pertanda buruk atau tanda bahwa kita tidak mendapatkan kemenangan dalam perjuangan melawan nafsu selama Ramadhan.

Untuk mengetahui tanda-tanda bahwa kita mendapatkan kemenangan selama Ramadhan adalah dengan mengetahui ciri-ciri orang yang bertaqwa. Semakin tinggi taqwa kita Kepada Allah maka semakin tinggi juga kualitas ibadah puasa kita. Siapa saja yang berhasil meraih puasa dengan penuh keikhlasan dan jauh dari hal-hal yang makhruh selama puasa, maka dialah yang mendapatkan kemenangan karena nilai taqwa telah membawa ia ke arah yang diridhai Allah.

Lantas, apa ciri-ciri orang bertaqwa? Dalam beberapa ayat al-Quran telah dijelaskan ciri-ciri orang bertaqa, diantaranya dalam surat ali imran ayat 134.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dharrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134).

Dari ayat di atas menjelaskan tiga sifat dari orang takut kepada Allah atau orang bertaqwa.

1. Orang bertaqwa memiliki jiwa sosial, ia suka membantu saudaranya dalam senang atau dalam susah bahkan orang yang tidak dikenalpun ia tergerak hatinya untuk membantu selama orang itu membutuhkan.

2. Orang bertaqwa mampu menahan amarah. Memang kita pahami bahwa marah adalah sifat manusiawi dan semua orang memiliki sifat emosional ini namun jika seseorang itu memiliki taqwa yang tinggi, ia tahu bahwa ia tidak pantas memarahi siapapun karena belum tentu yang di marahi lebih buruk dari dia.

Bulan ramadhan adalan bulan untuk melatih jiwa dan nafsu termasuk mengontrol amarah, bersikap lapang dada, arif menyikapi masalah, serta mampu memberikan kesejukan terhadap siapapun.

3. Memaafkan kesalahan orang lain. Meminta maaf adalah sifat yang sangat berat untuk di lakukan orang lain, namun ada yang lebih berat lagi yaitu memaafkan kesalahan orang lain. Memang sepintas, memberi maaf itu sesuatu yang mudah, tinggal mengucapkan saja. Namun perlu diketahui bahwa kemaafan ini hanya mampu di berikan oleh mereka yang bertaqwa karena ia tidak suka ada orang lain yang binasa di sisi Allah disebabkan oleh dia. Maka, ia akan mudah memberikan kemaafan untuk siapapun.

Bulan ramadhan adalah bulan ujian untuk naik kelas ketaqwaan. Dalam bulan ini, kita di ajurkan untuk banyak-banyak minta maaf pada Allah, dan Allah adalah maha pengampun untuk setiap dosa hambanya selama dosa itu tidak berhubungan dengan sesama manusia. Maka, tidak sepatutnya bagi manusia ini untuk tidak memberikan maaf terhadap saudaranya karena semua kita butuh maaf orang lain, karena kita tidak bebas dan terlepas dari dosa.

Khutbah ke 2

اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Itulah khutbah hari raya idul fitri, kamu juga bisa membahas masalah masalah lain yang berkenaan dengan puasa dan zakat fitrah bahkan bagi khatib hari raya idul fitri disunnatkan untuk membicarakan tentang perihal zakat fitrah dan hakikat dari hari raya dalam khutbah idul fitrinya.