Home Info Qasidah Burdah: Penulis, Sejarah, dan Keutamaan

Qasidah Burdah: Penulis, Sejarah, dan Keutamaan

40
Dahsyatnya Qasidah Burdah

Qasidah burdah syair yang berisi pujian kepada Rasulullah SAW, maka ini bisa juga di sebut sebagai shalawat kepada Nabi SAW. Qasidah burdah adalah shalawat yang cukup masyhur di Indonesia bahkan ada anak-anaki di kalangan pesantren menghafal syair burdah ini.

Diantara isi dari qasidah burdah adalah berisi pujian, nilai spritual, pesan moral, dan semangat perjuangan yang menjadi bahan bacaan sertiap ada penyelenggaraan maulid Nabi SAW.

Qasidah Burdah: Penulis, Sejarah, dan Keutamaannya

Qasidah Burdah: Penulis, Sejarah, dan Keutamaannya

Disini kita akan bahas tentang siapa penulis Qasidah burdah, apa saja keutamaannya dan bagaimana cara bacanya. INi adalah syair yang cukup banyak mengandung hikmah dan keutamaan bagi yang membacanya. Qasidah burdah adalah syair pujian kepada Rasulullah SAW yang di karang oleh seorang ulama yang alim, sufi, serta sangat cinta dengan baginda Rasulullah SAW, beliau adalah Imam Bushiri.

Imam al Bushiri sangat cinta terhadap Rasulullah SAW dan kecintaannya ini cukup nampak dari bait bait syairnya yang serign kita bacakan di malam jumat. Beliau tidak hanya menjelaskan bagaimana nilai spritual dan moralitas namun juga bagaimana cara kita mencintai Rasulullah SAW dengan sebenarnya.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kita ummat nabi Muhammad di akhir zaman ini tidak ada amalan yang bisa di handalkan selain mengharapkan syafaat Rasulullah SAW. Maka, salah satu caranya adalah mencintai Rasulullah SAw dan memperbanyak membacakan shalawat kepada beliau.

Siapa Imam al Bushiri? Ini Biografinya!

Imam Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Beliau lahir di sebuah desa yang bernama Dalas yaitu sebuah desa bani Yusuf yang berada di dataran tinggi Mesir pada tahun 609 H. Saat kecil, al Bushiri tumbuh di desa Ayahnya yaitu desa Bushir. Jadi, penyebutan nama beliau al Bushiri adalah nisbat kepada desa tersebut. Beliau wafat pada usia 87 tahun yaitu tahun 696 H.

Makam beliau berada di Mesir juga yaitu di sebuah tempat bernama Iskandariyah, Mesir dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi.

Beliau belajar ilmu al-Quran sejak kecil kepada ayahnya langsung, dan beliau termasuk seorang yang tumbuh di keluarga yang sangat mencintai ilmu. Beliau tidak hanya belajar pada sang ayah, namun al Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu pada beberapa guru lainnya.

Diantara guru al Bushiri adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama besar yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991].

Di masa mencari ilmu, beliau sangat bersemangat sehingga menjadi seorang ulama besar, alim, sufi dan bahkan al bushiri termasuk salah satu ulama yang pandai sastra.

Sebagai bukti bahwa ilmu beliau sangat luas, kita bisa melihat beberapa karya agugn beliau seperti al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Sementara karya beliau yang sangat fenomenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yaitu karya yang terkenal dengan Qasidah Burdah.

Qasidah Burdah yang hari ini sangat masyhur tidak terlepas dari penulisnya yang ikhlas dan sangat mencintai Rasulullah SAW dalam menulis setiap bait syairnya. Keikhlasan tersebut membuat tulisannya menggema dan bermanfaat untuk semuanya. Qasidah burdah bukan hanya sebuah kitab syair dan shalawat kepada Nabi SAW. namun juga sebagai sebuah kitab yang banyak di syarah oleh ulama kemudiannya.

Lihat juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

Diantara ulama yang membuat syarah bagi qasidah burdah adalah Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan beberapa ulama lainnya.

Sejarah Qasidah Burdah

Sejarah Qasidah Burdah

Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al Baijuri disebutkan bahwa penulisan Qasidah Burdah ini bermula ketika Imam Al Bushiri menderita lumpuh. Penyakit lumpuh membuat Imam al Bushiri tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berdiam diri dirumah. Namun kekosongan waktu ini beliau gunakan untuk menulis syair pujian kepada Rasulullah SAW dengan harapan beliau bisa mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ

Artinya: “Diriwayatkan bahwa imam al Bushiri membuat Qasidah ini ketika beliau menderita sakit lumpuh, beliau meminta syafaat melalui qasidah tersebut kepada Allah SWT, dan ketika tidur beliau bermimpi melihat nabi SAW, Nabi SAW. menyapu tangannya yang mulia yang berkah pada badan beliau, maka beliau sembuh seketika itu.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).

Ketika beliau bangun dari tidurnya, beliau menemukan bahwa beliau sehat wal afiat, banyak yang mendatanginya dan berkata: “Wahai Tuanku, saya berharap agar engkau bisa memberikan Qasidah yang didalamnya ada pujian kepada Rasulullah SAW.”

Baca juga: Teks Sholawat Assholatu Alan Nabi | Arab dan Latin

“Qasidah mana yang engkau kehendaki” Jawab al Bushiri.

Qasidah yang di mulai dengan ‘amin tadzakkuri jirânin’, kata mereka.

Setelah itu banyak yang mnemuinya dan mengambil berkah pada beliau serta meminta Qasidahnya sebagai wasilah untuk penyembuhan. Ini bukan menganggap bahwa qasidah itu yang menyembuhkan, bukan sama sekali, namun melalui qasidah itu bertawasul kepada Rasulullah SAW agar Allah menyembuhkan penyakit.

Lebih lanjut Imam Baijuri menyebutkan dalam syarahnya:

أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ

Artinya: “Banyak manusia yang mengambil keberkahan dengan qasidah tersebut, dan meminta syafaatnya, berdasarkan prinsip bahwa meminta syafaat itu bukan dengan lafash-lafadh qasidahnya, namun hanya sanya itu adalah meminta syafaat dengan Rasulullah SAW.”

Kelebihan Qasidah burdah dibandingkan dengan qasidah lainnya adalah dari sisi penyusunannya. Beliau tidak hanya menulis syair tentang pujian kepada Rasulullah SAW saja namun juga menjelaskan tentang kelahiran Rasulullah SAW, nasab beliau, mukjizat al-Quran, mengingatkan manusia tentang bahayanya hawa nafsu, dan ada juga kisah israk mi’raj didalamnya.

Beliau juga menjelaskan tentang jihad Rasulullah SAW, tawasul dan permohonan syafaat, dan beliau tutup dengan ungkapan munjata dan perasaan hina di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Keutamaan Qasidah Burdah

Keutamaan Qasidah Burdah

Dalam kitab az-Zubdah fî Syarhil Burdah disebutkan bahwa suatu waktu ada seorang yang menderita sakit mata dan orang tersebut dalam mimpinya mendengar:

خُذْ مِنَ الْبُرْدَةِ وَاجْعَلْهَا عَلَى عَيْنَيْكَ

Artinya: “Ambillah Qasidah Burdah dan letakkan di depan matamu”

Ketika ia bangun, ia mengadukan mimpi itu kepada Syeikh Wazir dan beliau berkata: Qasidah Burdah adalah pujian-pujian kepada Rasulullah SAW dan ia bisa menjadi wasilah untuk berobat”.

Baca juga: Lirik Sholawat Ya Sayyidi Ya Rasulullah, Arab, dan Latin

Selanjutnya, Syeikh Wazir mengambil Qasidah Burdah, menyuruh beberapa orang untuk duduk dan syeikh Wazir meletakkan Burdah di depan mata orang yang sakit tersebut. Atas izin Allah penyakit orang tersebut langsung sembuh saat itu.

Tak hanya itu saja, namun Qasidah burdah juga bisa menjadi wasilah untuk memohon kepada Allah untuk memohon berbagai kebutuhan. Ini sebagaimana yang di sebutkan oleh syeikh al Qari.

Beliau mengatakan وَهِيَ مُجَرَّبَةٌ عِنْدَ طَلَبِ الْحَاجَاتِ وَنُزُوْلِ الْمُهِمَّاتِ

“Qasidah Burdah mujarab dalam hal menuntut hajat dan untuk sukses berbagai kepentingan”. (‘Ali al-Qari, az-Zubdah, halaman 13)

Karena Qasidah Burdah MUrajab sebagai wasilah menyelamatkan seseorang dari berbagai cobaan, maka di namakan sebagai selimut atau Burdah. Seperti baju atau selimut yang bisa menyembuhkan seseorang bahkan ada yang mengatakan bahwa Rasulullah menyelimuti imam Bushiri ketika beliau selesai menulis syair pujian tersebut. Dan itu menyebabkan imam Bushiri sembuh total dari penyakit lumpuhnya.

Membacakan qasidah burdah untuk tujuan penyembuhan tidak menganggap Qasidah itu sebagai penyembuh, kita tidak menuhankan lafal-lafal syair itu, namun ini adalah tawasul dengan Rasulullah SAW dengan memuji Rasullah dan berbagai hal lainnya tentang Rasulullah SAW. Lewat Tawasul itu kita mengharapkan agar Allah memperkenankan berbagai hajat kita.

Sumber: https://islam.nu.or.id/shalawat-wirid/qasidah-burdah-penulis-keutamaan-dan-cara-bacanya-AmKkP