Setelah Shalat Maghrib, Matahari Kembali Terbit di Ufuk Barat

Setelah Shalat Maghrib, Matahari Kembali Terbit di Ufuk Barat

Posted on

Dijelaskan dalam kitab-kitab figh bahwa waktu shalat maghrib adalah ketika terbenam matahari di ufuk barat, artinya sempurna terbenam matahari. Ketika itu waktu shalat maghrib tiba dan berterusan hingga hilang syafak (rona merah) di sebelah barat bumi, berdasarkan pendapat qadim Imam Syafi’e dan ini adalah pendapat yang dianggap raajih atau kuat oleh Imam Nawawi.

Nah, jika dipertanyakan sebuah persoalan, bagaimana hukum shalat maghrib yang dikerjakan setelah terbenam matahari dan setelahnya matahari kembali terbit atau menampakkan dirinya di ufuk barat? Tentang masalah unik ini ulama fiqh telah duluan mengemukakan pendapat dan argumen. Dalam kitab Hasyiyah Qalyubi (kitab yang mengomentari terhadap matan minhaj) halaman 112 disebutkan bahwa shalat maghrib tersebut wajib di ulang (‘i’adah). Demikian juga dengan shalat asar yang di kerjakan ketika telah terbenam matahari, ia menjadi shalat tunai (bukan qadha) karena matahari telah kembali bersinar di ufuk barat setelah terbenam. Ini sebagaimana yang terjadi dalam kisah Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Jadi, Bagi seseorang yang melakukan shalat maghrib tersebut ia wajib mengulanginya karena nyata dan fakta bahwa shalat maghrib yang pertama di lakukan belum maghrib, dengan alasan matahari sudah kembali naik di ufuk barat.

Demikian halnya bagi orang berpuasa dan ia berbuka puasa dengan sebab terbenam matahari tersebut, ia wajib meng-qadha’ puasanya karena telah nyata bahwa matahari tidak terbenam atau kembali bersinar di sebelah barat bumi, dan ini menunjukkan bahwa belum tibanya waktu berbuka puasa.