Home Al-Quran Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

97
Bagaimana Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

Surat al baqarah adalah surat kedua dari susunan surat dalam al-Quran. Surat al baqarah terdiri dari 286 ayat dan berada dalam dua juz yaitu juz 1 dan 2. Disini kita akan melihat tafsir al baqarah ayat 2 yang membicarakan tentang al-Quran sebagai sebuah kitab yang tidak ada keraguan tentang kebenarannya dan al-Quran menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.

Bunyi al baqarah ayat 2:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Dzālikal kitābu lā rayba fīhi hudal lil muttaqīna.

Artinya: “Itu kitab tiada terdapat keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa.”

Tafsir Surah al Baqarah Ayat 2

Dalam tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, Imam al-Baidhawai menyebutkan bahwa ZALIKAL KITAB artinya “kitab itu” itu maksudnya adalah al-Quran yang di isyaratkan dengan isim isyarah bu’ud atau jauh (zalika). Bisa di tafsirkan kalimat “dzalikal kitba” sebagai Surat Al-Baqarah, Al-Qur’an itu sendiri, kitab, atau kitab suci terdahulu. Sementara arti dari Kitab adalah kumpulan, gabungan atau himpunan.

 Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 2

“LA RAIBA FIIHI” tiada keraguan padanya. Al-Quran itu tidak ada keraguan sedikitpun padanya dan orang yang memiliki akal pasti tahu kalau itu adalah wahyu Allah SWT dan bukan buatan manusia. Al-Quran adalah mukjizat besar bagi Nabi Muhammad SAW dan tiada seorangpun yang meragukan kemukjizatan al-Quran.

Al-Quran itu benar-benar firman Tuhan dan sama sekali tidak ada keraguan didalamnya. Bahkan kalau kita perhatikan ayat “Jika kalian meragukan sebagian dari wahyu yang kami turunkan kepada hamba Kami…(dan seterusnya),” Al-Quran memberikan kesempatan kepada mereka yang ragu untuk menantang al-Quran.

Nah, ketika mereka tidak berdaya menentang al-Quran bahkan Allah menentang manusia dan jin untuk mendatangkan satu ayat saja yang sama tinggi sastranya dengan Al-Quran. namun tidak ada satupun makhluk yang bisa menentang al-Quran. Ketika mereka melihat bahwa mereka tak berdaya, maka jelas bahwa al-Quran tidak ada keraguan kesamaran dan pintu masuk keraguan padanya.

Ada juga yang menafsirkan bahwa tidak ada keraguan didalamya bagi orang yang bertaqwa. Kalimat “Raibu” adalah kalimat masdar dari “sesuatu membuatku ragu”, dan kemudian timbul keraguan dalam dirimu. Ragu itu adalah kegelisan jiwa dan guncangan batin. Keraguan ini membuat hilangnya ketenangan batin dan di sebut dengan syak.

HUDAN LILMUTTAQIIN: Petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Al- Quran yang tidak ada keraguan padanya adalah petunjuk bagi orang tang taqwa. Jadi, al-Quran adalah pedoman yang mengarahkan manusia kejalan yang lurus atau benar. HUDAN adalah petunjuk yang memberikan arah kepada orang yang taqwa dalam menempuh kehidupan di dunia fana.

Sebagian para ulama mengatakan bahwa HUDAN adalah petunjuk yang mengantarkan pada tujuan. Maka, seseorang yang tidak mengikuti aturan al-Quran, ia di sebut sebagai sesat atau “dhalalah”.

HUDAN atau petunjuk disini di tujukan secara khusus pada orang yang bertaqwa. Kenapa? Karena orang yang bertaqwa adalah orang menerima petunjuk untuk di laluinya sehingga menjadi orang sampai ke tujuan.

Namun demikian, petunjuk itu juiga bisa diartikan secara umum bagi bagi orang Muslim atau bukan sebagaimana dalam ayat “hudan lin nās” atau sebagai petunjuk bagi manusia.

Orang bertaqwa adalah mereka yang menerima aturan dari Allah yang diturunkan lewat al-Quran, itu adalah orang yang takut kepada Allah sehingga ia melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Muttaqin adalah orang yang bertaqwa yaitu orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa membahayakan dirinya di akhirat. Makna taqwa adalah menjunjung tinggi perintah Allah dan meninggalkan larangannya baik dalam sunyi atau di depan orang banyak.

Imam Baidhawi menyebutkan bahwa isyarat Dzalika dalam al baqarah ayat 2 sebagaimana yang dikutip dari Ibnu Kaisan adalah sebelum Allah menurunkan ayat kedua al-baqarah, Allah sudah menurunkan ayat lain yang di dustakan oleh kaum musyrik waktu itu. Kemudian Allah berfirman pada ayat kedua baqarah ini “Itu kitab”, yang artinya surat-surat yang diturunkan sebelum al Baqarah.

Anda juga suka:

Tafsir Ma’alimu Tanzil

Al-Baghowi dalam Tafsir Ma’alimu Tanzil sebagaimana mengutip dari ulama tafsir menyebutkan bahwa al baqarah ayat 2 sekalipun bersifat khabariyyah atau informatif namun maksudnya adalah amar (perintah) atau imperatif.

Jadi, artinya adalah “Jangan kalian ragu,” seperti makna Surat Al-Baqarah ayat 197, “lā rafatsa wa lā fusūqa…”. Sedangkan al-muttaqīn, sebagaimana kutipan dikutip dari Ibnu Abbas, artinya adalah orang yang menjaga diri dari kemusyrikan, dosa besar, dan dosa keji.

Dalam kitab Tafsir Ma’alimut Tanzil karangan Imam Baghawi disebutkan bahwa Sayyidina Umar RA. bertanya kepada Kaab bin Ahbar tentang taqwa. Ia bertanya “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” “Pernah.” “Apa yang kaulakukan?” “Aku berhati-hati dan waspada.” “Itulah takwa,” demikian jawab Ahbar.

Abdullah bin Umar mengatakan tentang taqwa, “Takwa itu adalah kau tidak melihat dirimu lebih baik dari orang lain”. Sementara Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Takwa itu pengabaian atas larangan Allah dan pelaksanaan atas perintah-Nya. Sedangkan anugerah-Nya setelah takwa itu merupakan sebuah kebaikan yang belipat ganda.”.

Sumber:
https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-2-IkjJT
https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Baqarah

Previous articleKhutbah Nikah: Hukum dan Cotohnya
Next articleTalak Khulu’ dalam Fiqih Munakahat